Rabu, 09 Oktober 2019

HAKIKAT MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM DAN BARAT


BAB I
PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang
Berbicara  tentang hakikat manusia, akan mengarahkan  kita  kepada  pertanyaan penting dan mendasar tentang manusia, yaitu apakah manusia itu? Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita melihat beberapa definisi tentang manusia.  Beberapa ahli  filsafat, Socrates  misalnya,  menyebut  manusia  sebagai Zoon  politicon atau  hewan  yang  bermasyarakat,  dan  Max  Scheller  menyebutnya  sebagai Das Kranke Tier atau hewan yang sakit yang selalu bermasalah dan gelisah. Ilmu-ilmu humaniora termasuk ilmu filsafat telah mencobamenjawab pertanyaan mendasar tentang manusia  itu,  sehingga terdapat  banyak  rumusan atau pengertian  tentang manusia.  Selain  yang  telah  disebutkan diatas, beberapa rumusan atau definisi lain tentang manusia adalah sebagai berikut:
1. Homo sapiens atau makhluk yang mempunyai budi.
2. Homo faber atau Tool  making  animal yaitu  binatang  yang pandai  membuat  bentuk peralatan dari bahan alam untuk kebuTuhan hidupnya.
3. Homo economicus atau makhluk ekonomi.
4. Homo religious yaitu makhluk beragama.
5. Homo  laquen  atau  makhluk  yang  pandai  menciptakan  bahasa  dan menjelmakan pikiran dan perasaan manusia dalam kata-kata yang tersusun.
Di  samping  itu  masih  ada   ungkapan  lain  tentang  definisi  manusia, diantaranya,  manusia  sebagai: animal  rationale (hewan  yang rasional  atau  berpikir), animal  symbolicum  (hewan  yang  menggunakan  symbol)dan animal  educandum (hewan yang bisa dididik). Tiga istilah terakhir ini menggunakan kata animal atau hewan  dalam  menjelaskan  manusia.  Hal  ini  mengakibatkan  banyak  orang terutama dari kalangan Islam tidak sependapat dengan ide tersebut. Dalam Islam hewan dan manusia adalah dua makhluk yang sangat berbeda. Manusia diciptakanAllah sebagai  makhluk  sempurna  dengan  berbagai  potensi  yang  tidak  diberikan kepada  hewan,  seperti  potensi  akal  dan  potensi  agama.  Jadi  jelas  bagaimanapun keadaannya, manusia tidak pernah sama dengan hewan. Munir Mursyi seorang ahli pendidikan Mesir mengatakan bahwa pendapat tentang  manusia  sebagai animal rationale atau al-Insan  Hayawan  al-Natiq bersumber dari filsafat Yunani dan bukan dari ajaran Islam. Terkait dengan hal ini adalah  gagalnya  teori  evolusi  Charles   Darwin.  Ternyata  Darwin  tak  pernah  bisa menjelaskan  dan  membuktikan   matarantai  yang  dikatakannya  terputus (the missing  link) dalam  proses  transformasi   primata  menjadi  manusia. Jadi  pada hakikatnya  manusia  tidak  pernah  berasal  dari  hewan  manapun,  tetapi  makhluk sempurna  ciptaan Allah dengan  berbagai  potensinya, “Sesungguhnya  Kami  telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS:95:4).

       B.   Rumusan Masalah
1.      Apa itu Hakikat Manusia?
2.      Bagaimana wujud hakikat manusia?
3.      Bagaimana potensi manusia?
4.      Bagaimana perkembangan potensi manusia?

       C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa makna dari hakikat manusia.
2.      Untuk mengetahui bagaimana wujud hakikat manusia yang sebenarnya.
3.      Untuk mengatahui bagaimana potensi manusia.
4.      Untuk mengetahui bagaimana perkembengan potensi manusia.







BAB II
PEMBAHASAN
         
A.    Hakikat Manusia 
Manusia adalah keyword yang harus dipahami terlebih dahulu bila kita ingin memahami pendidikan.  Untuk itu perlu kiranya melihat secara lebih rinci tentang beberapa pandangan mengenai hakikat manusia:  
1.      Pandangan Psikoanalitk
                        Dalam  pandangan  psikoanalitik  diyakini  bahwa  pada hakikatnya  manusia digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif. Hal ini menyebabkan tingkah   laku   seorang   manusia   diatur dan dikontrol oleh kekuatan  psikologis  yang  memang  ada  dalam diri manusia. Terkait hal ini diri manusia tidak memegang kendali atau tidak menentukan atas  nasibnya seseorang  tapi  tingkah  laku  seseorang  itu  semata-mata  diarahkan  untuk  mememuaskan kebuTuhan dan insting biologisnya.
2.      Pandangan Humanistik
          Para humanis menyatakan bahwa manusia memiliki dorongan-dorongan dari dalam       dirinya untuk mengarahkan dirinya mencapai tujuan yang positif. Mereka menganggap manusia itu rasional dan dapat menentukan nasibnya sendiri. Hal ini membuat  manusia  itu  terus  berubah  dan  berkembang  untuk  menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sempurna. Manusia dapat pula menjadi anggota kelompok  masyarakat  dengan  tingkah  laku yang  baik.  Mereka  juga  mengatakan selain  adanya  dorongan-dorongan  tersebut,  manusia  dalam hidupnya juga digerakkan oleh rasa tanggung jawab sosial dan keinginan  mendapatkan sesuatu. Dalam  hal  ini  manusia  dianggap  sebagai  makhluk  individu  dan  juga  sebagai makhluk sosial,

Adapun beberapa defenisi manusia dalam pandangan islam adalah sebagai berikut :
1.      Manusia Sebagai Hamba Allah (Abd Allah)
Sebagai hamba Allah, manusia wajib mengabdi dan taat kepada Allah selaku Pencipta karena adalah hak Allah untuk disembah dan tidak disekutukan. Bentuk pengabdian  manusia  sebagai  hamba Allah tidak  terbatas  hanya  pada  ucapan  dan perbuatan saja, melainkan juga  harus dengan  keikhlasan  hati,  seperti  yang diperintahkan dalam surah Bayyinah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah  dengan  memurnikan  ketaatan  kepada-Nya  dalam  menjalankan agama  yang  lurus  …,” (QS:98:5). Dalam surah adz- Dzariyat Allah menjelaskan: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku.” (QS51:56).
  
2.         Manusia Sebagai al- Nas
Manusia, di dalam al- Qur’an juga disebut dengan al- nas.Berdasarkan fitrahnya manusia memang makhluk sosial. Dalam  hidupnya  manusia  membutuhkan  pasangan,  dan  memang  diciptakan berpasang-pasangan  seperti  dijelaskan  dalam  surah  an-  Nisa’, “Hai  sekalian manusia, bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu daridiri,  dan  dari  padanya Allah menciptakan  istirinya,  dan  dari  pada  keduanya  Alah  memperkembangbiakkan  laki-laki  dan  perempuan  yang  banyak.  Dan  bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain dan  peliharalah  hubungan  silaturahim.  Sesungguhnya Allah  selalu  menjaga  dan mengawasi kamu.” (QS:4:1).
Selanjutnya dalam surah al- Hujurat dijelaskan: “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorng laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu  berbangsa-bangsa  dan  bersuku-suku  supaya  kamu  saling  kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa di antara  kamu.  Sesungguhnya Allah Maha  Mengetahui  lagi  Maha  Mengenal.” (QS:49:13).

3.      Manusia sebagai khalifah Allah
Hakikat manusia sebagai khalifah Allah di bumi dijelaskan dalam surah alBaqarah ayat 30: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada paramalaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorangkhalifah di muka bumi.”Mereka berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumiitu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan  memuji  engkau  dan  mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:  “Sesungguhnya Aku  mengetahui  apa  yang  kamu  tidak  ketahui.” (QS:2:  30), dan  surah  Shad  ayat 26,“Hai  Daud,  sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (peguasa) di muka bumi,  maka berilah keputusan diantara manusia  dengan  adil  dan  janganlah  kamu mengikuti  hawa  nafsu.  Karena  ia  akan  menyesatkan  kamu  dari  jalan Allah.  …” (QS:38:26).

4.      Manusia sebagai Bani Adam
Sebutan manusia sebagai bani Adam merujuk kepada berbagai keterangan dalam al- Qur’an yang menjelaskan  bahwa  manusia adalah keturunan Adam dan bukan berasal dari hasil evolusi dari makhluk lain seperti yang dikemukakan oleh Charles  Darwin. Dalam  surah   al- A’raf  dijelaskan: “Hai  anak  Adam,  sesungguhnya  Kami  telah  menurunkan  kepadamu  pakaian  untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling  baik.  Yang  demikian  itu  adalah  sebagian  dari  tanda-tanda  kekuasaan Allah, semoga  mereka  selalu  ingat.  Hai  anak  Adam  janganlah  kamu  ditipu  oleh  syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, …” (QS : 7; 26-27).



5.      Manusia sebagai Al-Insan
Manusia  disebut  al- insan dalam al- Qur’an mengacu  pada  potensi  yang diberikan Tuhan kepadanya. Potensi  antara  lain  adalah  kemampuan  berbicara kemampuan menguasai ilmu pengetahuan  melalui  proses  tertentu dan  lain-lain.  Namun  selain  memiliki  potensi  positif  ini,  manusia sebagai  al-  insan  juga  mempunyai  kecenderungan  berprilaku  negatif  (lupa). Misalnya dijelaskan  dalam  surah  Hud: “Dan  jika  Kami  rasakan  kepada  manusia suatu  rahmat,  kemudian  rahmat  itu  kami  cabut  dari  padanya,  pastilah  ia  menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (QS: 11:9)
.
6.      Manusia Sebagai Makhluk Biologis (al-basyar)
Dalam al- Qur’an surah alMu’minūn dijelaskan: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari pati tanah. Lalu Kami jadikan saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh  (rahim).  Kemudian  air  mani  itu  Kami  jadikan  segumpal  darah,  lalu  menjadi segumpal daging, dan segumpal daging itu kemudian Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang  belulang  itu  Kami  bungkus  dengan  daging.  Kemudian  Kami  jadikan  dia makhluk berbentuk  lain,  maka  Maha  Sucilah Allah,  Pencipta  yang  paling baik.”(QS:23: 12-14).

B.          Wujud Hakikat Manusia (Karakteristik Manusia)

Umar  Tirta  Raharja  dan  La  Sulo mengatakan di antara wujud sifat hakikat manusia adalah sebagai berikut:11
1.      Kemampuan Menyadari Diri
Melalui  kemampuan  ini  manusia  betul-betul  mampu  menyadari  bahwa  dirinya memiliki  ciri  yang  khas  atau  karakteristi  diri. Kemampuan  ini  membuat manusia  bisa  beradaptasi  dengan  lingkungannya  baik  itu limgkungan  berupa individu  lainnya  selain  dirinya,  maupun  lingkungan  nonpribadi  atau  benda.
2.      Kemampuan Bereksistensi
Melalui  kemampuan  ini  manusia  menyadari  bahwa  dirinya  memang  ada dan eksis dengan sebenarnya. Dalam hal ini manusia punya kebebasan dalam ke ‘beradaan’ nya.Berbeda dengan hewan di kandang atau tumbuhan di kebun yang ‘ada’ tapi tidak menyadari ‘keberadaan’ nya.
3.      Pemilikan Kata Hati (Conscience of Man)
Yang dimaksud dengan kata hati di sini adalah hati nurani. Kata hati akan melahirkan  kemampuan  untuk  membedakan  kebaikan  dan  keburukan.  Orang yang  memiliki  hati  nurani  yang  tajam  akan  memiliki  kecerdasan akal budi sehingga  mampu  membuat keputusan  yang  benar  atau yang salah.
4.      Kemampuan Bertanggung Jawab
Karakteristik  manusia  yang  lainnya  adalah  memiliki  rasa  tanggung  jawab, baik  itu tanggung  jawab  kepada Tuhan,  masyarakat  ataupu  pada  dirinya  sendiri. Tanggung jawab  kepada  diri  sendiri  terkait  dengan  pelaksanaan  kata  hati.
 Tanggung  jawab kepada  masyarakat  terkait  dengan   norma- norma  sosial,  dan tanggung  jawab kepada Tuhan berkaitan  erat  dengan  penegakan  norma-norma agama.

C.     Potensi Manusia 
Jalaluddin  mengatakan  bahwa  ada  empat  potensi  yang  utama  yang merupakan fitrah dari Allah kepada manusia.
1.      Potensi Naluriah (Emosional) atau Hidayat al- Ghariziyyat
Potensi naluriah  ini  memiliki  beberapa  dorongan  yang berasal  dari  dalam diri  manusia.  Dorongan-dorongan  ini  merupakan  potensi  atau  fitrah  yang diperoleh manusia tanpa melalui proses belajar.
2.      Potensi Inderawi (Fisikal) atau Hidayatal-Hasiyyat
Potensi  fisik  ini  bisa  dijabarkan  atas  anggota  tubuh  atau  indra-indra  yang dimiliki manusia seperti indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba dan perasa. jadi bisa dikatakan poetensi merupakan alat bantu atau media bagi manusia untuk mengenal hal-hal  di  luar  dirinya.
3.      Potensi Akal (Intelektual) atau Hidayat al- Aqliyat
Potensi  akal  atau  intelektual  hanya  diberikan Allah  kepada  manusia sehingga potensi  inilah yang benar-benar membuat manusia menjadi makhluk sempurna dan membedakannya dengan binatang. Jalaluddin mengatakan bahwa: “potensi  akal  memberi  kemampuan  kepada  manusia  untuk  memahami  simbolsimbol,  hal-hal yang  abstrak, menganalisa, membandingkan, maupun membuat kesimpulan yang akhirnya  memilih  dan  memisahkan  antara  yang  benar  dengan yang salah.
4.      Potensi Agama (Spiritual) atau Hidayat al- Diniyyat
Selain  potensi  akal, sejak awal manusia telah dibekali dengan fitrah beragama atau  kecenderungan pada agama. Fitrah ini akan  mendorong  manusia untuk  mengakui  dan  mengabdi kepada sesuatu  yang dianggapnya memiliki kelebihan dan kekuatan yang  lebih besar dari manusia itu sendiri. Dalam al-Qur’an dijelaskan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada  agama Allah; (tetaplah  atas)  fitrah Allah yang  telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,’ (QS: ar-Rūm:30). Dalam  ayat  lain  dijelaskan  bahwa: “Dan  ingatlah  ketika  Tuhan-mu mengeluarkan keturunan  anak-anak  Adam  dari  sulbi  mereka,  dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka dan berfirman, ‘Bukankah Aku ini Tuhan mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul, Engkau adalah Tuhan kami, kami menjadi saksi.” (QS: al-A’raf;172).

D.    Pengembangan Potensi Manusia
Jalaluddin mengatakan ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam mengembangkan potensi manusia.

1.      Pendekatan Filosofis
Menurut   pandangan  filosofis   manusia   diciptakan  untuk  memberikan kesetiaan, mengabdi dan menyembah hanya kepada penciptanya. Dalam al- Qur’an disebutkan; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada- Ku.” (QS: adz- Dzāriyat: 56), dengan begitu menurut filosofis al-Qur’an manusia memang diciptakan untuk taat dan mengabdi kepada penciptanya. Sesuai  dengan  kakikat  penciptaannya,  maka  keberadaan  atau  eksistensi  manusia itu  baru  akan  berarti,  bermakna  dan  bernilai  apabila  pola  hidup  manusia  telah sesuai  dengan blue-print  yang  sudah  ditetapkan  oleh Tuhan. 
2.      Pendekatan Kronologis
Pendekatan kronologis memandang manusia sebagai makhluk evolutif.Manusia  tumbuh dan berkembang secara bertahap dan berangsur. Dalam al-Qur’an dijelaskan: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia  dari sari pati  tanah.  Lalu  Kami  jadikan saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kamijadikan  segumpal  darah,  lalu  menjadi  segumpal  daging, dan segumpal  daging  itu kemudian Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk  berbentuk lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS: al-Mu’minūn: 12-14).
3.      Pendekatan Fungsional
Potensi-potensi yang dimiliki manusia diberikan Tuhan untuk dapat dipergunakan dan  difungsikan dalan kehidupan mereka. Karena tidak mungkin Tuhan menciptakan  sesuatu yang tidak bermanfaat. Semua ciptaan Tuhan mempunyai maksud dan tujuan,  temasuk potensi-potensi yang diberikan kepada manusia. Dalam surat ad-Dukhān ayat 38 dijelaskan; “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.
4.      Pendekatan Sosial
Dalam pendekatan ini manusia dipandang sebagai makhluk sosial. Manusia dianggap sebagai makhluk yang cenderung untuk hidup bersama dalam kelompok kecil  (keluarga)  maupun besar (masyarakat).S ebagai makhluk sosial manusia harus mampu  mengembangkan potensinya untuk bisa berinteraksi didalam lingkungannya dan  mampu  memainkan peran  dan  fungsinya ditengah lingkungannya.





BAB III
PENUTUP

     A.     Kesimpulan
Manusia adalah keyword yang harus dipahami terlebih dahulu bila kita ingin memahami pendidikan.
Umar  Tirta  Raharja  dan  La  Sulo mengatakan di antara wujud sifat hakikat manusia adalah sebagai berikut:
1.      Kemampuan menyadari diri
2.      Kemampuan bereksistensi
3.      Pemilikan kata hati
4.      Kemapuan bertanggung jawab
Jalaluddin  mengatakan  bahwa  ada  empat  potensi  yang  utama  yang merupakan fitrah dari Allah kepada manusia, yaitu:
1.      Potensi naluriah (emosional) atau hidayat al-Gharizyyat
2.      Potensi inderawi (fisikal) atau hidayat al-hasiyyat
3.      Potensi akal (intelektual) atau hidayat al-Aqliyat
4.      Potensi agama (spiritual) atau al-Diniyyat
Jalaluddin mengatakan ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam mengembangkan potensi manusia, yaitu:
1.      Pendekatan filosofis
2.      Pendekatan kronologis
3.      Pendekatan fungsional
4.      Pendekatan social


    B.     Saran
Makalah ini tentunya masih jauh dari kata sempurna, tetapi semoga dengan adanya makalah ini pemahaman kita akan hakikat manusia bertambah. Dan semoga makalah ini juga menjadi bahan referensi bagi penulis selanjutnya. Kritik serta saran sangat kami harapkan sebagai bahan untuk hasil-hasil tulisan kami selanjutnya








DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Februari 2013 VOL. XIII, NO. 2, 296-317,pdf agma diakses 25 September 2017



Tidak ada komentar: